Pukul 08.00 Wita, Saya dijemput
pak Abas dengan sepeda motor. Kurang lebih 1 jam perjalanan darat,
tibalah kami di sebuah dermaga kecil, di suatu kampung di Kabupaten
Banjar, Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan nderes dapat 50 ayat.
Kemudian
datanglah klotok; perahu bermesin, yang akan membawa saya ke lokasi
acara Isra Mi'raj diadakan yakni Desa Bakambat. Tampak para penjemput
sebanyak 5 orang; pak tua berumur sekitar 60 tahun, juru mudi, dan 3
orang panitia. Semua berpakaian bagus, bersih dan sederhana. Wajah
mereka kelihatan gembira dan bersemangat.
Perjalanan
akan ditempuh sekitar satu jam. Menyusuri sungai Bunipah anak Sungai
Barito; sungai terbesar kedua di pulau Kalimantan, setelah sungai
Kapuas. Kemudian kami melewati muara sungai Barito yang terhubung
langsung dengan laut Jawa dan masuk ke sungai Bakambat, yang sekaligus
menjadi nama bagi desa terpencil yang terletak di tepi Laut Jawa.
Desa
ini bagian dari kecamatan Aluh-aluh, kabupaten Banjar, Provinsi
Kalimantan Selatan. Di perjalanan saya sempat berbincang dengan pak tua
yang setia memayungi saya dari pancaran sinar matahari yang cukup terik,
sembari menyaksikan kapal-kapal tongkang berisikan ratusan ton batubara
yang siap merapat ke kapal perusahaan asing yang menunggu di Laut
lepas.
Kata pak tua, acara sudah mulai sejak
pukul 7.30 wita dengan membaca Maulid al-Habsyi, yang menjadi tradisi
masyarakat Kalimantan Selatan setiap mengadakan peringatan hari besar
Islam. Pak tua juga menginformasikan bahwa desa Bakambat yang akan di
datangi termasuk desa tertinggal secara perekonomian.
Setelah
satu jam, tibalah kami di desa Bakambat. Saya menaiki dermaga kecil
yang cukup tinggi dengan tangan yang gemetar hebat, karena sudah tiga
tahun ini bagian tubuh sebelah kanan dalam kondisi stroke ringan selalu
bereaksi pada saat diperlukan keseimbangan tubuh ketika turun dan
menaiki tempat tinggi. Beruntung saya dibantu panitia yang dengan sigap
memegang tangan kanan saya.
Dengan perlahan,
saya menyusuri jembatan kecil dari kayu-kayu yang bersusun seadanya,
karena kalau terpeleset atau tersandung sedikit saja, bisa terjatuh.
Saya dipersilahkan ke rumah salah satu warga untuk istirahat sejenak
sekedar menunggu panitia mempersiapkan pergantian acara. Terdengar doa
penutup maulid sdh dibacakan, tanda pembacaan maulid sudah selesai.
Tuan
rumah menyuguhkan minuman dan makanan kecil. Pak Tua yang selalu
mendampingi saya berpesan agar dalam ceramah yang akan disampaikan nanti
dijelaskan juga mengenai pentingnya sedekah dan infaq supaya masyarakat
mendapatkan motivasi untuk memberikan sumbangan pada setiap kegiatan
keagamaan yang diadakan di Masjid.
Sekitar 10
menit kemudian kami beranjak ke lokasi acara; sebuah masjid tua yang
terletak di tengah permukiman penduduk. Sesampainya di masjid, acara
segera dimulai setelah saya dipersilahkan duduk ditempat penceramah. Di
masjid telah penuh jamaah laki dan perempuan. Remaja dan dewasa. Rupanya
satu kampung hadir semua.
Saya yang lemah ini
segera saja kosongkan diri dari merasa tahu, berusaha untuk
connectkepada Allah Sang Maha 'Alim, memohon anugrah dan bimbingan
kepadaNya agar hati berisi ilmu dan lisan dapat berucap menyampaikannya
,....itulah pelajaran yang saya dapatkan dari KH. Wahfiudin, wakil
talqin TQN Suryalaya, ketika mengikuti pelatihan kader dakwah yang
diadakan oleh Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama.
Mulailah
saya menyampaikan ceramah mengenai Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan
pelajaran yang dapat diambil darinya. Salam saya ucapkan, bismillah saya
mulakan, hamdalah saya sertakan, kedua kalimah syahadat saya iqrarkan,
shalawat dan salam pun saya mohonkan untuk sang pengemban risalah suci;
Baginda Nabi Mulia Sayyiduna Muhammad SAW berikut keluarga dan para
sahabat serta pengikut jejaknya hingga akhir masa.
Bahasan dalam ceramah yang saya sampaikan adalah sebagai berikut:
Maha
Suci Engkau, tiada ilmu bagi kami kecuali yang sudah Kau ajarkan kepada
kami. Sungguh Engkaulah Sang Maha 'Aliim Sang Maha Hakiim
Ya
Allah kami meminta pada Mu, demi musyahadah rahasia-rahasia para
pecintaMu, dengan pertemuan khusus antaraMu dengan pemimpin semua
RasulMu ketika kau isra' kan dia di hari ke dua puluh tujuh yang mulia,
kiranya Kau rahmati sedih dukanya hati kami
Subhana = Maha Suci Allah, sehingga tidak berguna prasangka apa pun terhadap peristiwa isra mi'raj
Alladzi
Asra Bi 'Abdihi = Allah memperjalan Nabi Muhammad SAW secara utuh,
dengan jasad dan ruh ke seluruh dimensi, sehingga bisa bertemu dengan
ruh-ruh para nabi.
Laylan = Waktu malam berasal
dari surga yang dipindah ke dunia, sebagai waktu para pecinta mengiba
karena taubat dan kerinduan kepada Allah. Berbeda dengan siang yang
berasal dari terangnya gejolak Nerraka Jahannam, kini menjadi ajang
hiruk pikuk duniawi. Maka di surga tiada lagi gelap dan di neraka tiada
lagi terang.
Saat Mi'raj, Nabi Muhammad SAW
dengan kaum Nabi Musa AS yang menghuni Tanah Perak berkilauan, di balik
70 gunung sesudah Jabal Qaaf (antara langit dan bumi). Mereka bertahmid
karena bertemu Nabi Muhammad SAW dan memohon diajarkan Alquran, Sholat
dan seluruh Syariat Islam. Kaum itu memiliki keistimewaan; Rumah mereka
tak berpintu dan ruangannya sangat luas (melambangkan hati yang ikhlash
dan ridho), Masjidnya jauh dari rumah (kesungguhan beribadah), Kuburan
selalu berada di halaman rumah (selalu memikirkan nasib sesudah
kematian), Tidak pernah sakit (tidak berbuat dosa), dalam setahun hanya
satu warga yang wafat (hidup sehat dan panjang umur), wajah murung
(takut terhadap siksa dihari kiamat), memungut hasil sawah dan haasil
ternah secukupnya (bersift Qona'ah). Itulah para wali; kekasih Allah.
Sholat
sebagai Hadiah oleh-oleh Nabi Muhammad SAW dan Hidayah Allah SWT,
didalam al-Quran selalu berdampingan dengan perintah Zakat, menunjukkan
ibadah mahdhah harus disempurnakan dengan ibadah sosial/ muta'adiyah.
Disinilah pentingnya infaq dan shodaqoh sebagai padanan perluasan makna
zakat, dalam menyempurnakan berbagai ibadah mahdhah. Sebagaimana cerita
tentang pecinta nabi yang banyak membaca sholawat namun menolak untuk
bersedekah karena sipeminta tidak bisa membuktikan kemiskinannya, maka
dalam mimpinya ia ditolak Nabi Muhammad SAW karena nabi menyindirnya
dengan menanyakan apa bukti cintanya?
Itulah
isi ceramah yang saya sampaikan selama kurang lebih satu jam. Kemudian
saya tutup dengan permohonan maaf dan salam. Acara selanjutnya adalah
pembacaan tahlil dan doa. Usai acara saya diminta untuk membacakan doa
"penerang hati' pada dua wadah besar berisi telur bebek dan beberapa
keranjang besar berisi pisang. Telur dan pisang akan dibagikan kepada
jamaah yang menginginkannya dengan mahar lima ribu rupiah sebagai infaq
untuk masjid. Jamah pun segera menyerbu telur dan pisang tersebut.
Sungguh unik, semoga harapan mereka terkabul karena kerendahan hati dan
persangkaan baik, amin.
Kemudian saya bersama
beberapa tokoh masyarakat beranjak ke rumah salah satu warga yang berada
di dekat masjid untuk makan siang. Usai makan siang dan berbincang
sejenak melanjutkan pembicaraan yang tertunda pada saat kedatangan saya,
lantaran waktu yang tidak memungkinkan, saya pun berpamitan. Kemudian
saya diminta berkunjung ke rumah warga yang lain untuk suatu keperluan.
Sesampainya
di rumah warga tersebut, saya disuguhi minuman dan makanan ringan.
Beberapa saat kemudian tibalah waktu zhuhur, maka saya mohon izin untuk
melaksanakan shalat zhuhur berjamaah dengan pak Abas, mengantar saya
dengan sepeda motor saat berangkat dari rumah.
Sesudah
shalat zhuhur saya diminta memilihkan nama bayi dan membacakan doa yang
kemudian ditiupkan pada air putih sebagai wasilah agar hajat terkabul.
Saya kemudian berpamitan untuk pulang, karena perahu yang akan
mengantarkan saya pulang sudah disiapkan. Sekitar jam 2.00 wita kami
pulang dengan perahu bermesin yang menempuh perjalanan selama satu jam,
ketika sampai di dermaga tujuan, kembali menempuh perjalanan darat
dengan sepeda motor selama kurang lebi satu jam.
Kemudian
tibalah di rumah, tepatnya di belakang terminal induk kota Banjarmasin
Jalan A. Yani kilometer 6. Alhamdulillah, selesailah dakwah untuk hari
ini sebagai bagian dari belajar mensyukuri bagian tubuh yang sehat yang
lebih banyak,dan latihan bersabar atas bagian tubuh yang diberi sakit,
dengan berbagi manfaat untuk umat.***
Muhammad Halabi
Penulis adalah Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) Lembaga Dakwah NU.