Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah,
kita senantiasa memujiNy, memohon bantuan kepadaNya, memohon ampun kepadaNya.
Kita berlindung dengan Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan keburukan
amal-amal kita. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang
menyesatkannya, dan barangsiapa tersesat maka tidak ada yang bisa menjadi
petunjuknya (selain Allah). Sungguh, tiada tuhan selain Allah yang Mahaesa dan
tiada sekutu bagiNya. Sungguh, Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Semoga
Allah menganugerahkan kasih sayang dan kesejahteraan kepadanya, keluarganya dan
sahabatnya.
Sesungguhnya wasilah utama
untuk perbaikan diri dan penyucian hati, dan antisipasi dan penyelesaian berbagai permasalahan manusia, adalah ilmu. Sedangkan wasilah utama mendapatkan ilmu adalah membaca dan menulis.
Oleh karenanya ketika Allah menginginkan adanya hidayah kepada
makhluk dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada cahaya, maka Dia
menurunkan kepada manusia, kitab yang dapat dibaca. Pada awal surat yang
pertama turun dari alquran, dimulai dengan kata yang agung, ia adalah kunci
perbaikan bagi setiap manusia, sekalipun berbedan zaman dan negeri, yakni, Iqro’ “Bacalah”. Oleh karena itulah, siapa pun yang menghendaki
kesuksesan dan kesucian dan kebaikan, maka tidak ada jalan bagi perbaikan kecuali
dua wahyu yaitu alquran dan sunnah; membaca, menghafal dan mempelajarinya.
Upaya terhadap kitab yang
dibaca dan difahami dan diterapkan, adalah cara praktis untuk berubah dan
berkembang. Jika kita amati keadaan salafus shalih, dimulai sejak Nabi SAW dan
berakhir dengan kaum shalih moderen, pasti kita temukan bahwa bagian yang
menyatukan mereka adalah qiyam bil quran (berdiri ketika shalat
sambil membaca alquran), khususnya pada shalat malam, dan amal yang disepakati
mereka, yang tidak dapat dianggap ringan,
dalam setiap kondisi, adalah hizbul yaumi (membaca sejumlah ayat atau surat) dari
alquran.
Diriwayatkan dari Umar bin
Khattab RA yang berkata: Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidur dari hizibnya
(tidak membaca satu hizib alquran) atau (tidur lalu tidak membaca) sedikit
darinya, lalu ia membacanya di waktu antara shalat fajar dan shalat zuhur,
niscaya ditulis baginya seakan ia membacanya pada sebagian malam.”[1]
Sebuah keinginan yang kuat
agar tidak terlewatkan sekalipun ada halangan atau rintangan. Sebab, mereka
mengetahui dengan secara pasti, bahwa membaca quran adalah makanan hati, yang
tanpanya maka hati tidak akan hidup. Mereka sangat menginginkan makanan hati
sebelum makanan tubuh, dan mereka merasa kurang jika mendapatkan sedikit saja
dari alquran. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang suka berlebihan, yang hanya merasakan lapar dan hausnya
badan, sakit dan perihnya badan. Mengenai
sakitnya hati, hausnya hati
dan laparnya hati, mereka tidak menemukan jalan untuk merasakannya.
Sesungguhnya membaca alquran dalam shalat malam
adalah wasilah yang
paling kuat untuk mengabadikan tauhid dan keimanan, agar tetap tumbuh segar dan kokoh. Membaca alquran adalah pijakan bagi setiap amal shalih
yang lain seperti shiyam, shadaqah, jihad,
birrul walidain, dan silaturrahim. Pada saat Allah
hendak memberikan tugas menyampaikan dakwah yang merupakan beban berat, Dia membekali
beliau dengan amalan qiyam bil quran
[1] (Sahih Muslim I:515 (747),
Sahih Ibnu Hibban VI : 369 (2643), Sahih Ibnu Khuzaimah II:195 (1171), Sunan
Nasai Kubra I:458 (1464), Sunan Abu Dawud II: 34 (1313), Sunan Ibnu Majah I:326
(1343), Sunan Turmudzi II: 474 (581).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar