Kamis, 05 Januari 2017

kunci sukses tadabbur alquran



Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita senantiasa memujiNy, memohon bantuan kepadaNya, memohon ampun kepadaNya. Kita berlindung dengan Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita, dan keburukan amal-amal kita. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa tersesat maka tidak ada yang bisa menjadi petunjuknya (selain Allah). Sungguh, tiada tuhan selain Allah yang Mahaesa dan tiada sekutu bagiNya. Sungguh, Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya. Semoga Allah menganugerahkan kasih sayang dan kesejahteraan kepadanya, keluarganya dan sahabatnya.
Sesungguhnya wasilah utama untuk perbaikan diri dan penyucian hati, dan antisipasi dan penyelesaian berbagai permasalahan manusia, adalah ilmu. Sedangkan wasilah utama mendapatkan ilmu adalah membaca dan menulis. Oleh karenanya ketika Allah menginginkan adanya hidayah kepada makhluk dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada cahaya, maka Dia menurunkan kepada manusia, kitab yang dapat dibaca. Pada awal surat yang pertama turun dari alquran, dimulai dengan kata yang agung, ia adalah kunci perbaikan bagi setiap manusia, sekalipun berbedan zaman dan negeri, yakni, Iqro’ “Bacalah”. Oleh karena itulah, siapa pun yang menghendaki kesuksesan dan kesucian dan kebaikan, maka tidak ada jalan bagi perbaikan kecuali dua wahyu yaitu alquran dan sunnah; membaca, menghafal dan mempelajarinya.
Upaya terhadap kitab yang dibaca dan difahami dan diterapkan, adalah cara praktis untuk berubah dan berkembang. Jika kita amati keadaan salafus shalih, dimulai sejak Nabi SAW dan berakhir dengan kaum shalih moderen, pasti kita temukan bahwa bagian yang menyatukan mereka adalah qiyam bil quran (berdiri ketika shalat sambil membaca alquran), khususnya pada shalat malam, dan amal yang disepakati mereka, yang tidak dapat dianggap ringan, dalam setiap kondisi, adalah hizbul yaumi (membaca sejumlah ayat atau surat) dari alquran.
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA yang berkata: Rasulullah SAW, “Barangsiapa tidur dari hizibnya (tidak membaca satu hizib alquran) atau (tidur lalu tidak membaca) sedikit darinya, lalu ia membacanya di waktu antara shalat fajar dan shalat zuhur, niscaya ditulis baginya seakan ia membacanya pada sebagian malam.”[1]
Sebuah keinginan yang kuat agar tidak terlewatkan sekalipun ada halangan atau rintangan. Sebab, mereka mengetahui dengan secara pasti, bahwa membaca quran adalah makanan hati, yang tanpanya maka hati tidak akan hidup. Mereka sangat menginginkan makanan hati sebelum makanan tubuh, dan mereka merasa kurang jika mendapatkan sedikit saja dari alquran. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang suka berlebihan, yang hanya merasakan lapar dan hausnya badan, sakit dan perihnya badan. Mengenai sakitnya hati, hausnya hati dan laparnya hati, mereka tidak menemukan jalan untuk merasakannya.
Sesungguhnya membaca alquran dalam shalat malam adalah wasilah yang paling kuat untuk mengabadikan tauhid dan keimanan, agar tetap tumbuh segar dan kokoh. Membaca alquran adalah pijakan bagi setiap amal shalih yang lain seperti shiyam, shadaqah, jihad, birrul walidain, dan silaturrahim. Pada saat Allah hendak memberikan tugas menyampaikan dakwah yang merupakan beban berat, Dia membekali beliau dengan amalan qiyam bil quran


[1] (Sahih Muslim I:515 (747), Sahih Ibnu Hibban VI : 369 (2643), Sahih Ibnu Khuzaimah II:195 (1171), Sunan Nasai Kubra I:458 (1464), Sunan Abu Dawud II: 34 (1313), Sunan Ibnu Majah I:326 (1343), Sunan Turmudzi II: 474 (581).